| |
NU
Cabang Istimewa Malaysia
Runtuhnya pemerintahan Soeharto pada tanggal 12 Mei 1998 yang disertai
dengan tuntutan demokratisasi disegala bidang serta tuntutan untuk
menindak tegas para pelaku pelanggaran hak asasi manusia (HAM) telah
menjadikan perubahan day to day politics di Indonesia berlangsung
dengan akselarasi yang sangat cepat dan dinamis. Situasi ini menuntut
bangsa Indonesia untuk berusaha mengatasi kemelut sejarahnya dalam
arus utama (mainstrem) perubahan besar yang terus bergulir melalui
agenda reformasi. Begitu juga warga Jam'iyah Nahdlatul Ulama yang
selama ini tetap istiqomah dan gigih menyuarakan serta memperjuangkan
perubahan di semua aspek kehidupan, sehingga menerima resiko politik
yaitu dipinggirkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sebagai sebagian kecil dari spektrum warga Nahdliyin yang tinggal
di luar negeri, maka kami memulai gagasan pendirin NU dengan diskusi-diskusi
kecil. Pada akhirnya, sampai pada suatu kesimpulan bahwa dari tradisi
dan nilai-nilai keagamaan yang dijunjung tinggi maka Jam'iyah NU
di masa depan akan lebih progresif karena era reformasi merupakan
saat perubahan penting (turning point) dalam sejarah perjuangan
NU. Sebab dengan kecenderungan-kecenderungan yang akan terjadi,
baik dari perspektif agama, politik, hukum, sosial, budaya dan keamanan
maka NU sebagai Jam'iyah Diniyah Islamiyah (Organisasi Keagamaan)
Isya Allah akan mampu memberikan "pencerahan" hati nurani
kepada segenap bangsa Indonesia.
Mencermati fenomena-empiris tersebut, Miftahurrohim (Mahasiswa
Pasca Sarjana di Universiti Kebangsaan Malaysai (UKM) yang juga
alumni pondok pesantren Tebuireng Jombang) dibantu Mislachuddin
Djawahir (Mahasiswa Pasca Sarjana di UKM) terpanggil untuk mengasaskan
berdirinya NU di Malaysia (Asean).
Selanjutnya kedua mahasiswa dari keluarga NU tersebut bergerilya
beberapa bulan secara sembunyi dan confidential karena sebagian
besar mahasiswa Indonesia yang melanjutkan pendidikannya di Malaysia
bukan berasal dari keluarga besar NU. Setelah beberapa minggu mengidentifikasi
informasi dan asal usul beberapa mahasiswa Indonesia yang kuliah
di berbagai Universitas di Malaysia, beberapa kali kami mendapat
informasi yang tidak akurat karena mahasiswa yang dimaksudkan ternyata
bukan dari kalangan keluarga Nahdliyin.
Pencarian secara acak dan terbatas terhadap mahasiswa dari keluarga
besar NU tersebut diperoleh 12 orang generasi muda NU; Miftahurrohim
(S2-UKM/Lamongan), Mislachuddin (S2-UKM/Sidoarjo), Mukhammad Khanief
(S2-UKM/Jogjakarta), M.Agus Salim (S3-UKM/Pasuruan), Misbahus sudur
(S2-UKM/Jombang), Ahmad Rodoni (S3-UKM/Jakarta), Mukhlas (S2-UM/Universiti
Malaya/Lamongan), Musthafa Tabrani (Alumni Tebuireng/Jakarta), Muhammad
Khailani (TKI/Cilacap), Muhammad Nurhadi(Guru Agama/Ponorogo), Mahmud
Zaki Fuad (S2-UM/Banjarmasin), dan Syamsul Huda (S3-UKM/Bengkulu),
menyambut baik gagasan yang disampaikan.
Akhirnya, ke-12 orang tersebut menyetujui untuk mengadakan musyawarah
pertama pada tanngal 17 Maret 1999, bertempat di ruang rapat Masjid
UKM Bangi Selangor Malaysia. tetapi setelah menunggu cukup lama,
tiga nama terakhir tersebut di atas tidak hadir, sehingga hanya
9 orang -terakhir dikenal dengan istilah "TIM 9"- saja
yang hadir, dan pertemuan sepakat dimulai. Melalui diskusi yang
cukup dinamis dan proses perdebatan yang alot, maka berkembang beberapa
hal substantif dan strategis. Antara lain muncul tiga pilihan/opsi
gagasan dalam rangka merapatkan barisan oleh keluarga besar NU di
Malaysia, yaitu mendirikan NU, PKB atau KMNU (Keluarga Mahasiswa
Nahdlatul Ulama). Selanjutnya setelah memperhatikan berbagai masukan
dan pertimbangan, forum bersepakat untuk mengasaskan berdirinya
NU Asean di Malaysia.#
|
|
|