Berita

PCI NU Malaysia Bertemu Dubes Pro TKI
19/07/2008 - Pertemuan antara PCI NU Malaysia dan Duta Besar RI untuk Malaysia, Da'i Bachtiar diadakan di ruang Pangeran Diponegoro Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur Malaysia pada jam 15.30 hingga 17.30 waktu Malaysia.

 

Dubes Dukung Pengembangan Ranting NU di Malaysia
19/07/2008 - Dukungan Duta Besar Indonesia, Dai Bachtiar terhadap pembentukan ranting NU di Malasyia di sampaikan pada saat temu ramah dengan PCI NU Malaysia kemarin. Menurut beliau, pengembangan ranting NU ke kantong-kantong masyarakat Indonesia bisa ikut membantu kinerja KBRI dalam memonitoring permasalahan yang dihadapi WNI.

 

Alunan Sholawat Memeriahkan Pelantikan Ranting NU Segambut Dalam
15/07/2008 - Pelantikan pengurus ranting NU Segambut Dalam dimeriahkan dengan alunan sholawat badar yang menggema ke seluruh kawasan setempat.

 

Berita lainnya
 
 

Diskursus

Penubuhan Nahdlatul Ulama di Malaysia (NUCIM) pada 1999 merupakan satu bentuk respon terhadap aspirasi yang berkembang di kalangan masyarakat (baca nahdliyyin[1]) Indonesia yang tinggal di sini samada mereka yang sudah mempunyai status permanent resident mahupun dari golongan pelajar. Motivasi utama dari hasrat ini adalah berdasarkan kepada idealisme untuk menyebarkan ideologi dan fahaman NU supaya ia lebih mensejagat ke dunia antarabangsa khasnya dalam hal ini adalah Malaysia. Keinginan untuk memiliki perkumpulan (jamiyyah) sendiri untuk memenuhi keperluan dalam menjalankan aktiviti-aktiviti keagamaan dan kerinduan terhadap organisasi yang sudah mendarah daging di kalangan ahlinya semasa di tanah air, juga menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi kewujudan NU di Malaysia.

 

Nahdlatul Ulama (NU) adalah salah satu organisasi sosial-agama yang ada di Indonesia, selain NU terdapat organisasi sosial-agama lain yang cukup penting dan berperanan besar dalam membentuk karakter dan intelektual sebagian bangsa Indonesia seperti jamiyyah Muhamadiyah, Persatuan Islam (PERSIS), al-Washliyyah, Nahdlatul Wathan (NW), al-Irsyad, al-Khoiriyyah, Mathla’ul Anwar dan lain-lain. Namun demikian, dari sekian banyak organisasi sosial-agama tersebut, NU dan Muhamadiyah yang sering mendapat perhatian lebih dari kalangan pengamat dan peneliti sosial-politik dan agama, sama ada dari dalam negeri maupun manca negara. Ini barangkali disebabkan karena kedua-dua organisasi tersebut paling banyak anggotanya sehingga sangat mempengaruhi dan mewarnai dinamika sosial-politik Indonesia. NU mengklaim memiliki anggota kira-kira 60 juta pengikut, Muhamadiyyah memiliki anggota kira-kira 30-40 juta pengikut), juga memiliki lembaga pendidikan yang hampir terdapat di seluruh wilayah di Indonesia. Lembaga pendidikan NU berbasis pada pondok pesantren, sekolah-sekolah dan beberapa universiti, sedangakan lembaga pendidikan Muhamadiyyah berbasis pada sekolah-sekolah, universiti dan institut-institut lainnya. Oleh karena itu, kedua-dua organisasi ini memiliki peranan yang amat strategis untuk menentukan arah pembangunan bangsa dan negara Republik Indonesia.

 

Diskursus lainnya
 
 

Renungan

Kasus kekerasan yang terjadi di IPDN (Institut Pendidikan Dalam Negeri) yang merenggut nyawa mahasiswa bernama Cliff Muntu merupakan sebuah potret Lembaga Pendidikan Tinggi yang masih menerapkan Manajemen Berbasis Kekerasan.

 

Renungan lainnya
 
 

Taklimat  
           
11/04/2008 KAOS NUCIM  
11/04/2006 VCD Pengajian dan Pelantikan Pengurus NU Malaysia  
07/11/2003 Acara Buka Bersama dan Kordinasi Pengurus NUCIM  


Taklimat lain
 
   
 
Agenda  
     
11/04/2008 PELATIHAN KEPEMIMPINAN NAHDLATUL ULAMA  
26/02/2008 Pertemuan Dengan PP Muslimat NU  
08/02/2008 Rangkaian Acara Harlah  


Agenda lain
 
   
 Depan 
 
 Tentang Kami
 Sejarah
 Visi & Misi
 Pengurus
 
 Berita
 Diskursus
 Renungan
 
 Taklimat
 Agenda

Shilah
 Link
 Album
 Buku Tamu
 Kontak
 Email







| Profil | Berita | Diskursus | Renungan | Taklimat | Agenda | Link | Buku Tamu | Album | Kontak |
Copyright © NUCIM 2003-2007